
newsnoid.com, Batu – Sebuah momentum bersejarah bagi dunia seni kriya dan kebudayaan Indonesia tercipta di kawasan Kaliwatu Rafting, Pandanrejo, Bumiaji, Kota Batu. Ruang kreatif legendaris “Sukahati Art Space” resmi Dilaunching, sekaligus menandai dimulainya rangkaian program bergengsi “Arsip Karya dan Pikiran Maestro” bertajuk “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian”, sebuah fasilitasi bidang kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Acara yang berlangsung khidmat pada Sabtu (16/5/2026) sore tersebut dihadiri oleh Dra. Indah Chrysanti Angge, M.Sn. (Bu Santi) Korprodi Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (UNESA), para sesepuh tokoh seni Kota Batu, serta puluhan seniman muda dan budayawan lintas daerah.
Ketukan peresmian ruang seni baru ini ditandai dengan pembukaan pameran kolektif bertajuk “SEJIWA Ceramics Art Exhibition” yang diresmikan langsung oleh Dra. Indah Chrysanti Angge, M.Sn., sekaligus perwakilan dari Yayasan Seni Budaya Nusantara.
Dalam sambutannya yang penuh haru, Founder Sukahati Art Space, Mukhlis Arif, tidak mampu membendung air matanya saat mengenang kembali awal mula ruang kreatif ini dirintis pada medio 1996-1997 silam. Bersama saudara kembar sekaligus rekan seperjuangannya, Mukhlas Rofiq yang akrab disapa Pak Roo (Mr. Roo), ia membangun studio ini dari titik nol dengan penuh keterbatasan.
“Tadi pagi, saat saya melihat kembali alat pemutar keramik (handwheel) kuno di dalam yang usianya sudah lebih dari 150 tahun, saya sempat menangis. Saya teringat perjuangan dulu bersama Pak Ro. Bagaimana kami berdua menurunkan tanah liat (clay) satu truk, memanggulnya berdua masuk ke gang-gang kecil,” kenang Mukhlis Arif dengan suara bergetar.
Bagi Mukhlis, dedikasi puluhan tahunnya pada lempung (tanah liat) tidak pernah didasari atas orientasi bisnis semata. Sempat vakumnya ruang ini beberapa waktu justru menjadi pemantik untuk menghidupkan kembali ruh perjuangan yang dulu mereka bangun bersama.
“Kami tidak pernah berpikir ini akan menjadi bisnis besar. Pikiran kami saat itu sederhana: bagaimana karya kami bisa menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain. Semangat ketulusan bersama Pak Ro itulah yang ingin saya hidupkan kembali di Sukahati Art Space ini,” tegasnya.
Transformasi dari Matahati Keramik menjadi Sukahati Art Space bukan sekadar perubahan nama. Jika dulu Matahati berfokus eksklusif pada seni keramik, kini Sukahati memposisikan diri sebagai wadah inklusif dan ruang publik alternatif bagi seniman lintas disiplin.
Ruang ini nantinya akan memfasilitasi seni lukis (painting), seni logam, seni kertas, sastra, hingga seni instalasi. Kehadiran ruang baru ini disambut sukacita oleh generasi muda, salah satunya diungkapkan oleh Adib Muktafi, perwakilan mahasiswa seni yang selama ini menimba ilmu di bawah bimbingan Mukhlis Arif.
“Bagi kami, Pak Mukhlis bukan sekadar maestro yang jauh di sana, melainkan sosok mentor dan ayah. Beliau selalu menantang kami: ‘Bagaimana karya kita bisa berdampak? Bagaimana kreativitas bisa membuka jalan pikiran masyarakat?’ Sukahati Art Space adalah laboratorium kreatif yang sangat kami butuhkan untuk berkolaborasi dengan disiplin ilmu seni lainnya,” ujar Adib.
Rangkaian acara Sukahati Art Space sejatinya telah bergulir sejak awal Mei melalui kegiatan edukasi marjinal. Pada tanggal 8 dan 11 Mei 2026, telah dilaksanakan ‘Creativity Training’ “Guru Kreatif” (Low & High Impact) yang melibatkan sekolah-sekolah pariwisata dan sekolah pinggiran yang sempat menghadapi kendala operasional serta manajemen.
Melalui media lempung, Mukhlis Arif melakukan simulasi motivatif untuk mendobrak kebuntuan berpikir (mindset) para pendidik dan siswa. Di samping itu, pada hari peresmian (16/5), kelas edukasi publik juga langsung berjalan lewat kelas tematik “Pottery Class Dalam Sentuhan” yang digelar sebelum upacara pembukaan.
Dra. Indah Chrysanti Angge, M.Sn. (Bu Santi), menyatakan bahwa rekam jejak konsisten inilah yang membuat Yayasan Seni Budaya Nusantara berinisiatif mengusulkan Mukhlis Arif ke kementerian sebagai Maestro Seni Keramik Indonesia. Setelah melewati proses kurasi dan penjurian ketat di tingkat pusat, usulan tersebut lolos karena karya-karyanya dinilai telah meninggalkan jejak historis yang kuat, bahkan telah menjadi koleksi resmi museum keramik nasional di Bali.
“Pak Mukhlis adalah aset bangsa. Beliau tidak sekadar membuat produk untuk dijual, tapi dedikasinya untuk mengedukasi masyarakat marjinal, mahasiswa, hingga korporasi lewat media tanah liat itu sangat konsisten selama puluhan tahun. Pikiran-pikiran kritis beliau inilah yang harus diarsip dan disebarluaskan,” tutur Bu Santi.
Sebagai penanda awal geliat ruang baru ini, pameran “SEJIWA Ceramics Art Exhibition” akan dibuka untuk umum setiap hari mulai 17 Mei hingga 23 Mei 2026, pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Pameran ini menampilkan karya-karya eksperimental memukau dari delapan seniman berbakat dari berbagai daerah di Jawa Timur, yaitu: Adib Muktafi (Lumajang), Alya R. (Gresik), Dhila (Batu), M. Arif (Batu), Sindy (Sidoarjo), Oza (Kediri), Lily (Malang), Kikin Eka Rahayu Agustin (Nganjuk).
Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan jembatan menuju agenda puncak perayaan sang maestro. Mukhlis Arif membocorkan bahwa pada 24 Agustus 2026 mendatang, ia akan menggelar pameran tunggal berskala besar yang mengatalogkan seluruh arsip karya dan pikirannya mulai era tahun 1990-an hingga karya instalasi dan fungsional paling mutakhir.
Sukahati Art Space kini telah berdiri tegak di tengah sejuknya Kota Batu, siap menjadi rumah yang hangat bagi kolaborasi, edukasi, dan pertumbuhan ekosistem kreatif di Indonesia.(red)