
Tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, hingga kerusakan ekosistem tidak lagi menjadi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan global tersebut, perguruan tinggi dituntut mengambil peran yang lebih nyata melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan Diskusi Umum Best Practice for Managers dengan Small Grants Programme (SGP) yang digelar Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya (UB) di Ruang Sidang Lantai 6 Gedung Rektorat UB, Kamis (25/6/2026).
Forum tersebut menghadirkan National Coordinator Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Sidi Rana Menggala, Ph.D. dan dihadiri Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB Prof. Unti Ludigdo, Kepala UB Forest, Deputi Kantor Urusan Internasional (IO) UB Aulia, perwakilan Fakultas Vokasi, Sekretaris DRPM UB Taufiq Ismail, Ph.D., serta pimpinan berbagai unit di lingkungan UB.
Dalam sambutannya, Unti menegaskan bahwa penguatan kemitraan menjadi salah satu langkah strategis bagi UB untuk meningkatkan kontribusi di tingkat nasional maupun internasional.Bagi UB, forum ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi mengenai isu lingkungan global.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk membuka peluang kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030.
“Kami berharap dapat menemukan berbagai potensi untuk memanfaatkan peluang kemitraan antara Universitas Brawijaya dengan SGP-GEF. Kolaborasi lintas bidang di UB perlu terus bergerak untuk meraih berbagai peluang kerja sama,” ujarnya.
Lebih lanjut menurut Unti, UB selama ini terus mengembangkan jejaring internasional dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga di luar negeri, termasuk di Jepang dan Singapura.
Penguatan jejaring tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya kolaborasi dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan inovasi.
Ia menilai bahwa tantangan pembangunan berkelanjutan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Karena itu, sinergi antarfakultas dan unit kerja menjadi penting untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
“Kita harus bergerak bersama untuk meraih peluang tersebut dan mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki Universitas Brawijaya,” imbuhnya.
Sementara itu, Sidi Rana Menggala menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Mulai dari perubahan iklim, degradasi lahan, hingga menurunnya kualitas ekosistem darat dan laut. Menurutnya, fase GEF-9 menjadi salah satu periode penting menjelang target SDGs 2030.
Pada fase tersebut, berbagai program pembangunan berkelanjutan diarahkan untuk memperkuat dampak nyata di tingkat masyarakat.
“Visi utama yang ingin dicapai adalah mewujudkan planet yang sehat. Untuk itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah, Perguruan Tinggi, komunitas lokal, perempuan, dan masyarakat grass root,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai isu strategis yang menjadi perhatian global saat ini meliputi restorasi hutan kritis, perlindungan keanekaragaman hayati, degradasi lahan, serta pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Perubahan iklim, menurutnya, bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan realitas yang telah dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah.
Oleh karena itu, pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Dalam konteks tersebut, Perguruan Tinggi memiliki posisi strategis sebagai penghasil pengetahuan sekaligus mitra masyarakat dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan.
“Masyarakat bawah merupakan kelompok yang pertama kali merasakan dampak perubahan lingkungan. Karena itu mereka perlu diperkuat melalui pengetahuan, inovasi, dan partisipasi aktif,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut juga menjadi ruang pertukaran gagasan antarunit di lingkungan Universitas Brawijaya mengenai berbagai peluang pengembangan program yang berorientasi pada lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui forum ini, UB menunjukkan komitmennya untuk terus memperkuat jejaring kolaborasi dan meningkatkan kontribusi akademik bagi penyelesaian berbagai persoalan global.
Di tengah tantangan menuju tahun 2030, sinergi antara Perguruan Tinggi, pemerintah, masyarakat, dan mitra Internasional menjadi modal penting untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Bagi UB, langkah tersebut dimulai dari ruang diskusi, namun diharapkan berlanjut menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. (humasub)