
newsnoid.com, Malang – Suasana Aula Kudam V Brawijaya, Kesatrian, Blimbing, Sabtu (11/4/2026) siang, terasa lebih hangat dan akrab.
Sekitar 400 anggota Keluarga Besar Paguyuban Pasundan Jawa Timur memadati lokasi untuk menggelar Halal Bihalal yang penuh canda tawa dan kerinduan khas tanah Sunda.
Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi barometer penting bagi warga perantau asal Jawa Barat di Jawa Timur.
Logat Sunda yang lembut, obrolan santai, hingga tawa lepas menciptakan simfoni keberagaman dalam bingkai silaturahmi di Kota Malang.
Wali Kota Malang Ungkap Identitas Sunda
Momen spesial hadir saat Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberi sambutan.
Didampingi Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar, Kadikbud Kota Malang Suwarjana, Kadiskominfo M. Nur Widianto, Camat Blimbing Nina Sudiarty dan Lurah Kesatrian Basuki, kehadiran Wahyu bukan sekadar formalitas.
Di hadapan warga Pasundan, Wahyu membuka sisi pribadinya yang jarang diketahui publik.
“Saya hadir di tengah Bapak sekalian, paling tidak mewakili ayah saya yang sudah almarhum. Beliau pasti senang saya bisa kumpul dengan keluarga besar Sunda di Kota Malang,” ujarnya.
Meski lahir dan besar di Malang, Wahyu mengaku darah Sunda mengalir dari sang ayah asal Tasikmalaya.
Ia pun berkelakar soal logatnya yang “medok” saat bicara Bahasa Sunda. “Kalau diajak ngomong Sunda saya mengerti, tapi pas jawab pasti malu sendiri karena medok. Kalau kumpul saudara dari Tasik, Majalengka, atau Bandung, pasti ditertawakan,” ucapnya disambut tawa hadirin.
Wahyu menegaskan warga Pasundan bukan tamu, melainkan bagian dari denyut pembangunan Kota Malang.
Ia mengapresiasi sekitar 300 KK asal Jabar yang aktif menggerakkan UMKM. “Jangan merasa orang asing. Jadikan Malang seperti di Jawa Barat. Kami akan fasilitasi karena Bapak sekalian berkontribusi aktif untuk perekonomian Kota Malang,” tegasnya.
Paguyuban Jadi Jembatan Sosial, Penasehat Paguyuban Pasundan Jatim, Sholeh Kawimintorogo atau Abah Sholeh, menyebut Malang sebagai barometer nasional yang sejajar dengan kota besar lain. Ia berharap Malang terus tumbuh menjadi kota metropolitan yang tetap membumi dengan toleransi.
“Menjaga kerukunan tidak mudah, butuh komitmen semua elemen. Paguyuban Pasundan punya peran strategis sebagai penjaga nilai budaya sekaligus memperkuat jembatan sosial,” kata Abah Sholeh.
Ia juga menitipkan pesan agar Pemkot Malang terus memberi kemudahan bagi sektor ekonomi kerakyatan, terutama UMKM. Acara Halal Bihalal ditutup dengan komitmen bersama bahwa selama semangat kebersamaan dijunjung tinggi, perantau akan selalu menemukan hangatnya masyarakat Malang yang inklusif. (gih)
