• Beranda
  • Kebijakan Privasi
  • Persyaratan Layanan
  • Redaksi
  • Tentang Newsnoid.com
Newsnoid
No Result
View All Result
No Result
View All Result
newsnoid.com
No Result
View All Result
Home Jawa Timur

Jejak Terminal Kota Malang Dirawat, Arsip Lama Bangkitkan Gagasan Museum Terminal di Kota Malang

19 Februari 2026
in Jawa Timur, newsnoid.com, Terbaru
Bagikan

 

Jejak Terminal Kota Malang Dirawat, Arsip Lama Bangkitkan Gagasan Museum Terminal di Kota Malang

newsnoid.com, Malang- Denyut sebuah kota kerap bisa dibaca dari terminalnya. Dari tempat orang datang dan pergi, geliat ekonomi bertumbuh, cerita sosial bertaut. Di Kota Malang, simpul itu kini sedang dirawat ulang lewat rintisan Museum Terminal yang digagas oleh seorang warga Kota Malang.

RelatedPosts

“LENTERA RAMADHAN”, Whiz Prime Hotel Sajikan Kejutan Menarik Selama Periode Ramadhan 1447H

Wali Kota Malang Tinjau Sentra Takjil Jalan Sulfat, Pedagang Harus Patuhi Edaran dan Jaga Ketertiban

Dukung Program MBG, Polresta Sidoarjo Diganjar Presisi Award dari Lemkapi

Inisiatif tersebut digerakkan oleh Arief Wibisono. Ia terdorong menyusun ulang sejarah terminal setelah menemukan arsip lama milik sang kakek yang pernah memimpin Terminal Patimura pada dekade 1970-an.

Dokumen-dokumen itu, menurutnya, bukan sekadar kertas usang, melainkan potongan memori kota yang nyaris hilang.

“Saya menemukan banyak arsip penting. Rasanya sayang kalau hanya tersimpan. Harus ada upaya merangkum dan membagikannya ke publik,” ujar Arief saat ditemui, Selasa (17/2/2026).

Alih-alih langsung membangun ruang pamer, Arief memulai dari riset dan penulisan buku berjudul Sejarah Peradaban Terminal Kota Malang. Buku tersebut menjadi fondasi narasi museum sekaligus rujukan awal untuk memahami bagaimana terminal berkembang seiring perubahan tata kota.

Ia menyebut terminal sebagai cermin pertumbuhan populasi, pola mobilitas, hingga pergeseran pusat ekonomi.

Dari penelusurannya, terminal pertama Kota Malang berada di kawasan Pecinan dekat Pasar Besar. Sejak masa kolonial, lokasi terminal memang ditempatkan berdekatan dengan pusat niaga agar aktivitas perdagangan dan transportasi saling menguatkan.

Perpindahan kemudian terjadi ke Sawahan, yang kini menjadi area SPBU, lalu ke kawasan Trunojoyo pada era 1960-an.

Tonggak berikutnya adalah Terminal Patimura yang mulai difungsikan pada 1969 dan diresmikan pada 1972. Lokasinya berdiri di atas bekas kompleks pemakaman Belanda.

Sekitar 50 kerangka dipindahkan ke satu liang di area belakang pemakaman Sukun sebelum pembangunan dilakukan. Seiring lonjakan kendaraan dan pertumbuhan kota, kapasitas Patimura tak lagi mencukupi.

Pada 1989, operasional dipindahkan ke Terminal Arjosari yang berstatus tipe A dan melayani angkutan antarkota antarprovinsi.

Menurut Arief, perjalanan itu menunjukkan bahwa terminal selalu bergerak mengikuti denyut zaman. Karena itu, konsep museum yang ia siapkan bukan sekadar ruang pajang benda lama.

Ia merancangnya sebagai living museum, ruang interaktif yang memungkinkan pengunjung menyusuri alur waktu transportasi Kota Malang.

Hampir 100 foto dokumenter telah dikumpulkan, mulai dari periode kolonial hingga perkembangan Terminal Arjosari. Termasuk dokumentasi Terminal Blimbing yang kini beralih fungsi menjadi kantor Telkom.

Area lobi museum nantinya akan menampilkan panel foto sejarah, sementara lantai dua disiapkan untuk memamerkan seragam dinas pegawai terminal sebelum pengelolaan berada di bawah dinas perhubungan.

“Kami ingin orang tidak cuma melihat foto, tetapi merasakan perjalanan ruang dan waktunya,” kata Arief.

Hingga kini, progres pembangunan museum disebut telah mencapai sekitar 60 persen. Selain ruang pamer, Arief juga merancang program mini tour jejak terminal.

Tur edukatif itu akan mengajak peserta mengunjungi titik-titik bekas terminal di Kota Malang untuk memahami langsung transformasi kawasan.

Bagi Arief, museum ini bukan sekadar nostalgia. Ia berharap ruang tersebut menjadi pusat literasi sejarah urban sekaligus destinasi wisata edukatif baru.

Terminal, dalam pandangannya, bukan hanya tempat singgah kendaraan, melainkan saksi perubahan sosial dan ekonomi yang membentuk wajah Kota Malang hari ini.(win)

ShareSend
Next Post
Wali Kota Malang Tinjau Sentra Takjil Jalan Sulfat, Pedagang Harus Patuhi Edaran dan Jaga Ketertiban

Wali Kota Malang Tinjau Sentra Takjil Jalan Sulfat, Pedagang Harus Patuhi Edaran dan Jaga Ketertiban

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • “LENTERA RAMADHAN”, Whiz Prime Hotel Sajikan Kejutan Menarik Selama Periode Ramadhan 1447H
  • Wali Kota Malang Tinjau Sentra Takjil Jalan Sulfat, Pedagang Harus Patuhi Edaran dan Jaga Ketertiban
  • Jejak Terminal Kota Malang Dirawat, Arsip Lama Bangkitkan Gagasan Museum Terminal di Kota Malang
  • Dukung Program MBG, Polresta Sidoarjo Diganjar Presisi Award dari Lemkapi
  • Banjir Rendam Rumah Warga, Polisi Salurkan Bantuan Sembako

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025

Categories

  • Jawa Timur
  • Musik
  • newsnoid.com
  • Olahraga
  • Terbaru
  • Beranda
  • Kebijakan Privasi
  • Persyaratan Layanan
  • Redaksi
  • Tentang Newsnoid.com

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kebijakan Privasi
  • Persyaratan Layanan
  • Redaksi
  • Tentang Newsnoid.com

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.