
newsnoid.com, Malang- Kerja keras, risiko jalanan, dan solidaritas jadi realita sehari-hari para pengemudi Bunyi notifikasi di ponsel adalah hal paling ditunggu ribuan driver online setiap hari.
Saat sebagian orang masih menyeruput kopi pagi di rumah, mereka sudah lebih dulu mengaspal, mengejar order demi order.
Di balik layanan antar makanan dan barang yang serba cepat, tersimpan perjuangan panjang yang jarang terlihat oleh pelanggan.
Menjadi driver online ternyata tidak sesederhana mengendarai motor dan mengantar pesanan. Profesi ini menuntut fisik kuat, mental tangguh, dan kesabaran menghadapi situasi yang tidak bisa diprediksi.
Hal itu dirasakan Fandi, driver ShopeeFood yang tergabung dalam komunitas Rider Kompas.
“Orang tahunya kami tinggal ambil pesanan lalu mengantar. Padahal, untuk mendapatkan order saja kadang harus menunggu lama. Setelah order masuk, masih harus menghadapi macet, cuaca, hingga berbagai karakter pelanggan,” ujar Fandi.
Jumlah driver yang semakin banyak membuat setiap order memiliki nilai penting. Tidak jarang pengemudi harus menunggu berjam-jam sebelum order berikutnya masuk. Begitu order datang bertubi-tubi, mereka dituntut bergerak cepat agar pelayanan tetap maksimal.
Cuaca menjadi musuh sekaligus ujian harian. Saat hujan deras, jas hujan jadi pakaian wajib meski jalan licin dan jarak pandang terbatas. Ketika matahari terik, mereka tetap bertahan di atas motor berjam-jam demi memenuhi target pendapatan.
Risikonya pun nyata. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, kendaraan mogok, ban bocor, hingga ancaman pesanan fiktif dan tindak kriminal. Semua itu diterima sebagai bagian dari konsekuensi bekerja di jalan.
Pelayanan kepada pelanggan tetap jadi prioritas. Driver dituntut ramah, menjaga kualitas pesanan, datang tepat waktu, dan tetap profesional meski menerima komplain di luar kendali mereka.
Penilaian atau rating pelanggan sangat memengaruhi. Satu rating buruk bisa menurunkan performa akun dan mengurangi peluang mendapat order selanjutnya. Karena itu banyak driver rela mengorbankan waktu istirahat demi pelayanan terbaik.
Belum lagi biaya operasional yang terus naik. Bahan bakar, servis, ganti oli, ban, sampai paket internet harus ditanggung sendiri. Pendapatan yang masuk tidak sepenuhnya jadi keuntungan karena sebagian besar dipakai untuk menjaga kendaraan tetap layak jalan.
Meski penuh tantangan, Fandi mengaku tetap bersyukur.
“Yang membuat kami bertahan adalah semangat mencari nafkah. Setiap order adalah rezeki yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Di tengah kerasnya persaingan, solidaritas justru menguat. Melalui komunitas Rider Kompas, para driver saling membantu jika ada rekan yang kecelakaan, motor rusak, atau butuh bantuan di jalan. Mereka juga rutin berbagi info titik ramai order dan mengingatkan soal modus penipuan terbaru.
Perkembangan teknologi memang memberi kemudahan bagi masyarakat untuk pesan apa saja lewat satu sentuhan. Namun di balik itu, ada ribuan driver yang bekerja tanpa mengenal waktu agar setiap pesanan sampai dengan selamat.
Kisah Fandi menjadi gambaran bahwa profesi driver online bukan pekerjaan mudah. Di balik helm dan jaket yang mereka kenakan, ada semangat, kerja keras, dan pengorbanan yang sering luput dari perhatian
Menghargai perjuangan driver bisa dimulai dari hal kecil: memberikan alamat yang jelas, bersikap sopan, tidak membuat lama menunggu, dan memberikan penilaian objektif sesuai pelayanan.
Sebab di balik setiap pesanan yang sampai ke tangan pelanggan, ada seorang driver yang sedang berjuang menghidupi keluarganya dengan cara jujur dan penuh kerja keras. (Leg)
