
newsnoid.com, Batu– Kegiatan Jalan Sehat “Mlaku Fest” yang digelar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Batu untuk pelajar SD justru menuai sorotan.
Acara yang berlangsung Kamis (20/8/2026) di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu itu diwarnai aksi sejumlah siswa sekolah dasar yang naik ke panggung dan menyawer biduan.
Kegiatan yang diikuti ribuan siswa-siswi SD se-Kecamatan Batu ini semula bertujuan membangun kebersamaan, kesehatan dan semangat kebangsaan. Sejumlah wali murid juga terlihat mendampingi anak-anaknya.
Namun suasana berubah saat hiburan musik elektone menampilkan penyanyi perempuan. Beberapa siswa terlihat ikut bergoyang, naik ke area panggung dan memberikan uang saweran kepada biduan. Aksi itu berlangsung di hadapan peserta didik dan orang dewasa.
Salah seorang wali murid berinisial (Z) mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai aksi sawer tidak pantas dilakukan anak SD.
“Terus terang saya prihatin sekali, sebab tidak ada pengawasan dari para guru dan pihak panitia pelaksana, saya khawatir moral anak saya menjadi rusak karena aksi tersebut, karena ini masa pertumbuhan anak soal etika dan moral,” ungkapnya.
(Z) juga menyebut kegiatan itu dipungut biaya Rp5.000 per siswa. “Saya bayar Rp5.000 untuk kupon kegiatan gerak jalan. Rinciannya untuk gerak jalan Rp3.000 dan untuk permainan Rp2.000,” katanya.
Menurutnya, kegiatan hiburan seperti itu belum selayaknya ditonton anak usia SD. “Saya menilai itu sangat tidak pantas, apalagi sampai berjoget dengan orang dewasa sambil menyawer uang, seharusnya di momen kemerdekaan RI ke-81 ini kita lebih menghargai perjuangan para pahlawan untuk generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Ia berharap Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu memberikan sanksi tegas kepada panitia dan guru yang terlibat.
“Agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, karena saya khawatir moral dan akhlak anak saya rusak, mental psikologisnya supaya tidak terganggu,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Ketua K3S Kecamatan Batu, Mohammad Mustain, http://M.Ag menyampaikan klarifikasi. Ia menyebut aksi menyawer terjadi di luar rencana panitia.
“Kejadian di luar perencanaan, tindakan menyawer oleh beberapa siswa SD tersebut terjadi secara spontan, mendadak dan sama sekali tidak ada dalam rangkaian susunan acara yang direncanakan panitia,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Mustain juga mengakui adanya kekurangan pengawasan setelah gerak jalan selesai.
“Sebagai panitia, KKGO, BAPOPSI dan K3S, kami mengakui bahwa kejadian spontan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar,” katanya.
Ia menegaskan peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi. “Kedepan, kami akan memperketat pengawasan serta pengkondisian acara agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya.
Dalam klarifikasi tertulisnya, K3S juga berkomitmen terus membimbing peserta didik menjaga nilai-nilai etika baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Noer Adhim, belum memberikan keterangan resmi terkait tindak lanjut maupun sanksi kepada pihak panitia dan guru.
Publik kini menanti langkah konkret dari Dinas Pendidikan dan K3S. Sebab persoalan utamanya bukan hanya siapa yang menyawer, tetapi mengapa pengawasan terhadap ribuan peserta didik dalam kegiatan yang mengatasnamakan lembaga pendidikan bisa kecolongan.
Pendidikan tidak hanya soal materi di kelas. Keteladanan, etika dan perlindungan terhadap perkembangan anak di ruang publik juga menjadi tanggung jawab bersama.(ed)
