
newsnoid.com, Malang— Arema Voice memastikan tidak akan tampil dalam gelaran Malang Mbois11. Keputusan tersebut diambil setelah vokalis Wahyoe bersama seluruh personel melakukan rembuk internal dan mencermati dinamika yang berkembang di kalangan Aremania menyusul polemik mural “Malang The Glory Land”.
Wahyoe menegaskan, keputusan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap Malang Mbois11 maupun pihak penyelenggara. Langkah itu murni merupakan keputusan bersama yang dilandasi pertimbangan untuk menjaga hubungan, komunikasi, dan silaturahmi yang selama ini telah terjalin antara Arema Voice dan Aremania.
Menurut Wahyoe, situasi terkait persoalan mural hingga kini masih menjadi perhatian dan tensinya dinilai belum sepenuhnya mereda.
Dalam kondisi tersebut, Arema Voice memilih mengambil sikap dengan mengedepankan persaudaraan serta kondusivitas Kota Malang.
“Yo intine, ayas ndelok kondisi Aremania masalah mural iku dino iki terus memanas. Arema Voice sendiri sejak berdiri sampai sekarang selalu membangun silaturahmi dengan Aremania. Kalau Arema Voice tetap main, rasanya sia-sia perjuangan yang selama ini kita bangun bersama,” ungkap Wahyoe.(21/8/2026)
Ia menyebut perjalanan Arema Voice sejak berdiri tidak terlepas dari dukungan dan kedekatan dengan Aremania.
Karena itu, keputusan untuk tidak tampil dinilai sebagai pilihan yang lebih bijak daripada membiarkan kehadiran mereka di atas panggung justru menambah dinamika di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif.
Di sisi lain, Wahyoe berharap polemik mural “Malang The Glory Land” dapat segera menemukan penyelesaian. Ia menyambut baik adanya itikad dari pihak penyelenggara yang disebut siap mengembalikan mural di kawasan Stadion Gajayana seperti kondisi sebelumnya.
Tak hanya itu, menurut Wahyoe, terdapat pula upaya komunikasi dengan keluarga almarhum Nyek, sosok yang berkaitan dengan pembuatan mural tersebut. Bahkan, terdapat rencana untuk kembali menggambar mural pada tembok yang sebelumnya menjadi lokasi mural.
“Yo wes, sing penting mugo masalah iki ndang mari. Apomane penyelenggara di Gajayana siap mbalekno maneh mural seperti sedia kala. Juga ono itikad baik mereka nang omahe almarhum Nyek sing gawe mural Malang The Glory Land. Ndisik sing gawe mural ate gambar maneh ditembok iku,” ujarnya.
Wahyoe menekankan, keputusan Arema Voice tidak dimaksudkan untuk memperlebar persoalan. Sebaliknya, ia berharap semua pihak dapat menahan diri dan memberikan ruang bagi proses penyelesaian agar berjalan secara baik, terbuka dan bermartabat.
Ia juga mengajak Aremania serta masyarakat Kota Malang untuk bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
Bagi Wahyoe, musik dan seni semestinya menjadi medium untuk mempererat persaudaraan serta menghadirkan energi positif bagi masyarakat.
“Yang penting sekarang bagaimana masalah ini segera selesai. Kita berharap semua pihak punya itikad baik. Arema Voice tetap ingin menjaga silaturahmi dan persaudaraan dengan Aremania,” tegasnya.
Keputusan mundur dari Malang Mbois11 tersebut menjadi sikap kolektif Arema Voice setelah melalui pembahasan bersama seluruh personel.
Di tengah dinamika yang berkembang, mereka memilih menempatkan hubungan dengan Aremania dan kepentingan menjaga kondusivitas Kota Malang sebagai pertimbangan utama.
Wahyoe berharap sikap tersebut dapat dipahami secara proporsional dan tidak dimaknai sebagai bentuk permusuhan terhadap penyelenggara.
Ia menegaskan, Arema Voice tetap mendukung kemajuan seni dan industri kreatif di Kota Malang, sembari berharap polemik mural “Malang The Glory Land” segera berakhir melalui penyelesaian yang mengedepankan itikad baik, persaudaraan, dan suasana damai.(win)
