
NEWSNOID.COM, MALANG – Berawal dari obrolan sederhana, sebuah pengajian akbar akhirnya mampu menghadirkan ribuan jamaah. Lapangan Keripik Singkong Lumba-lumba, Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, dipadati masyarakat dari berbagai kalangan pada Jumat (4/9/2026) malam.
Ribuan warga datang untuk mengikuti Pengajian Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Suasana semakin khidmat ketika jamaah bersama-sama melantunkan shalawat dan doa, menciptakan nuansa religius yang begitu kuat.
Antusiasme masyarakat semakin tinggi dengan hadirnya Majelis Shalawat Azzahir yang diasuh Habib Ali Zainal Abidin serta penceramah kondang KH Anwar Zahid, atau yang akrab disapa Abah Anza dari Bojonegoro.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, MM. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Malang itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah daerah terhadap kegiatan keagamaan yang dinilai mampu memperkuat silaturahmi sekaligus membangun kebersamaan masyarakat.
Dalam sambutannya, Sanusi mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan.
Momentum tersebut harus menjadi sarana untuk kembali meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita bersama-sama memanjatkan doa agar Kabupaten Malang dan bangsa Indonesia senantiasa menjadi daerah dan negara yang lebih baik, maju dan sejahtera, semoga Allah SWT menjadikan kita masyarakat yang religius, berakhlak mulia serta istiqamah dalam menjaga persatuan,” ujar Sanusi.
Menurutnya, kegiatan pengajian dan shalawatan memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius.
Selain memperkuat keimanan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan serta menjaga persatuan di tengah masyarakat.
Berawal dari Obrolan, Berujung Ribuan Jamaah, di balik meriahnya Pengajian Akbar tersebut, terdapat cerita menarik tentang bagaimana kegiatan itu bermula.
Salah satu donatur utama sekaligus pemilik Keripik Singkong Lumba-lumba, H. Sucipto Hadi Wijoyo, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan Habib Ali Zainal Abidin dan KH Anwar Zahid baru muncul sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan acara.
Awalnya, ide tersebut hanya berangkat dari percakapan sederhana bersama sejumlah rekan.
“Ini bermula satu bulan yang lalu. Kemudian ada teman yang datang ke rumah dan menyampaikan bagaimana kalau ada jadwal Habib Ali Zainal Abidin dan Yai Anwar Zahid. Akhirnya langsung dirancang bersama,” ungkap Sucipto.
Dari obrolan tersebut, gagasan kemudian berkembang menjadi sebuah kegiatan keagamaan berskala besar.
Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran maupun pembiayaan.
Sejumlah pengusaha dan masyarakat ikut bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.
Di antaranya Abah Sutris, Adipa, Mbak Ani Hamur Pedes, Mas Khoirul hingga Warung Pak Untung.
“Alhamdulillah, semakin banyak yang ikut membantu sehingga acaranya semakin lancar dan sukses,” ujarnya.
Sucipto menegaskan, Pengajian Akbar tersebut sejak awal memang diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Tidak ada batasan golongan maupun latar belakang bagi siapa saja yang ingin hadir.
“Ini untuk umum. Dari golongan apa saja, kita ikutkan. Tidak pandang bulu,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan bukan semata-mata diukur dari jumlah jamaah yang hadir. Hal yang lebih penting adalah terciptanya ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dalam suasana positif, mempererat persaudaraan dan mendapatkan ilmu serta hikmah dari peringatan Maulid Nabi.
Ia berharap kegiatan keagamaan seperti itu dapat menjadi pemantik bagi masyarakat Kecamatan Turen untuk semakin aktif menggelar kegiatan sosial maupun keagamaan.
“Harapannya ke depan saudara-saudara di wilayah Kecamatan Turen menjadi lebih aktif dan lebih semangat untuk bersama-sama mengadakan acara seperti ini,” tuturnya.
Tingginya antusiasme masyarakat membuat muncul harapan agar Pengajian Akbar Maulid Nabi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan tahun ini.
Sucipto bahkan membuka peluang kegiatan serupa kembali digelar pada tahun-tahun mendatang.
“Insya Allah, melihat kekompakan saudara-saudara di wilayah Turen, saya berharap ini bisa dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Saya mendukung penuh,” tegasnya.
Ia menilai pelaksanaan tahun 2026 dapat menjadi awal lahirnya tradisi positif di tengah masyarakat Turen yang dibangun melalui semangat gotong royong.
Selain Keripik Singkong Lumba-lumba, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Wijaya Variasi, Pandansari Snack dan sejumlah pihak lainnya.
Sucipto berharap seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar serta para ulama dan seluruh jamaah yang hadir senantiasa diberikan kesehatan.
“Semoga acara malam hari ini berjalan lancar dan Yai Anwar Zahid diberi kesehatan,” pungkasnya.
Pengajian Akbar di Desa Talok tersebut akhirnya tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa dari sebuah gagasan sederhana yang dibangun dengan semangat gotong royong, dapat lahir kegiatan besar yang mampu menyatukan ribuan warga dalam suasana religius, mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kebersamaan.(yun)
