
newsnoid.com, SIDOARJO — Kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sidoarjo periode 2026-2029 langsung dihadapkan pada dua pekerjaan besar. Selain membenahi tata kelola organisasi, KONI juga dituntut membangun kekuatan atlet untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
Target prestasi tinggi harus berjalan beriringan dengan pembenahan administrasi, transparansi anggaran, pemetaan cabang olahraga (cabor), hingga peningkatan kesejahteraan atlet.
Hal tersebut mengemuka dalam pelantikan pengurus KONI Sidoarjo masa bakti 2026-2029 di Pendopo Delta Wibawa, Minggu (13/9/2026).
Bupati Sidoarjo Subandi menekankan pentingnya pembenahan internal agar persoalan yang pernah terjadi di tubuh KONI tidak kembali terulang.
Menurutnya, dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, termasuk melalui anggaran, harus diikuti dengan sistem pengelolaan organisasi yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita mengucapkan selamat atas pelantikan hari ini. Tadi sudah saya sampaikan kepada daerah bahwa KONI ini sudah dilantik dua kali, maka hari ini sudah tidak boleh lagi ada persoalan seperti KONI yang kemarin,” kata Subandi.
Ia juga mendorong KONI Sidoarjo mulai memanfaatkan sistem digital dalam pengelolaan organisasi. Pemkab Sidoarjo, lanjutnya, akan menyiapkan dashboard yang memungkinkan data cabor, kegiatan, hingga realisasi anggaran dipantau secara lebih terukur.
“Kita punya dashboard. Cabor-cabor akan terdata semua, kegiatan, realisasi anggaran juga akan diketahui semua. Cabor yang kemarin kerjanya bagus dan tidak, kita bisa melihat semua,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, kebutuhan masing-masing cabor diharapkan dapat dipetakan berdasarkan kondisi dan capaian. Artinya, penyusunan anggaran tidak hanya bertumpu pada pengajuan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan serta kinerja setiap cabor.
Persiapan menghadapi Porprov Jawa Timur 2027 pun diminta tidak dilakukan secara mendadak. Subandi meminta pengurus KONI segera melakukan audiensi dengan Pemkab Sidoarjo untuk menyusun program sekaligus kebutuhan anggaran.
Perencanaan sejak 2026 dinilai penting agar anggaran yang dialokasikan pada 2027 benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Jangan sampai nanti pada tahun 2027 kita siapkan anggaran banyak, ternyata anggaran tidak dimanfaatkan,” jelasnya.
Bawa Konsep Atlet Unggul, Sidoarjo Juara
Di tengah tuntutan pembenahan organisasi tersebut, Ketua KONI Sidoarjo Rafi Wibisono membawa konsep “Atlet Unggul, Sidoarjo Juara” sebagai arah kerja kepengurusan hingga 2029.
Fokusnya mencakup pembinaan atlet secara berjenjang, peningkatan kesejahteraan atlet, serta peningkatan kualitas pelatih dengan dukungan sport science.
“Yang pertama, unggul dalam pembinaan yang berjenjang. Karena tidak ada kemenangan yang instan, semua pasti membutuhkan persiapan dan proses,” kata Rafi.
Konsep pembinaan tersebut akan dimulai sejak usia dini. Penjaringan atlet potensial dilakukan dari tingkat desa hingga kecamatan, sebelum diarahkan pada pembinaan berkelanjutan melalui kelompok usia muda hingga jenjang prestasi.
Bagi Rafi, prestasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah medali. Masa depan atlet setelah tidak lagi aktif bertanding juga menjadi bagian dari tanggung jawab KONI.
“Pada masa proses saya ini jangan lagi ada atlet Sidoarjo yang berprestasi tetapi nanti hidupnya susah,” tegasnya.
Karena itu, KONI Sidoarjo akan membangun database atlet yang memuat rekam prestasi dan kontribusi masing-masing atlet.
Data tersebut nantinya dapat menjadi dasar pemberian perhatian, mulai bonus, beasiswa, hingga peluang pengembangan karier.
KONI juga membuka ruang kerja sama dengan Pemkab Sidoarjo, badan usaha milik daerah (BUMD), maupun badan usaha milik negara (BUMN) untuk memperkuat pembinaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan atlet.
Dari sisi target, Rafi tidak memasang sasaran rendah pada Porprov Jawa Timur 2027. Ia ingin Sidoarjo mampu bersaing di papan atas meski Surabaya berstatus sebagai tuan rumah.
“Sidoarjo harus masuk juara besar, ini adalah target kita,” ujarnya.
Status Surabaya sebagai tuan rumah, menurut Rafi, bukan alasan bagi Sidoarjo untuk kehilangan kepercayaan diri.
Ia melihat potensi atlet Sidoarjo cukup besar untuk bersaing memperebutkan posisi terbaik.
“Sidoarjo adalah kabupaten yang besar. Sidoarjo adalah gudangnya para atlet. Mengapa kita pesimistis? Kita harus optimis sehingga juara itu nanti bisa kita dapatkan,” katanya.
Kunci lainnya adalah kekompakan antar-cabor. Rafi meminta seluruh pengurus mengurangi ego sektoral dan mengutamakan kepentingan prestasi Sidoarjo.
“Hilangkan rasa ego, hilangkan rasa sekat-sekat dan golongan. Kita ini satu bendera, KONI Sidoarjo. Jika ingin kompak, juara itu pasti akan datang,” ucapnya.
Di usia 25 tahun, Rafi menyebut kepemimpinan KONI Sidoarjo sebagai amanah sekaligus tanggung jawab besar. Ia memastikan ruang komunikasi akan dibuka seluas-luasnya bagi cabor maupun atlet.
“KONI ini bukan hanya milik ketua, KONI ini milik kita bersama,” pungkasnya.
KONI Jatim Pasang Target Tinggi
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jawa Timur Muhammad Nabil menempatkan sinergi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda sebagai salah satu faktor penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan olahraga di Sidoarjo.
Nabil bahkan menetapkan standar tinggi bagi kontingen Sidoarjo pada Porprov 2027. Posisi kedua di bawah Surabaya menjadi target minimal, meski peluang untuk merebut posisi teratas tetap terbuka.
“Target minimal Sidoarjo harus berada di posisi kedua di bawah Surabaya. Namun, untuk melampaui Surabaya tetap terbuka, terutama setelah Surabaya tidak lagi menjadi tuan rumah Porprov,” kata Nabil.
Selain mengejar medali, Nabil mengingatkan KONI Sidoarjo agar tidak mengabaikan kesejahteraan atlet. Ia juga meminta dilakukan pemetaan terhadap cabor yang belum tersedia, tetapi memiliki potensi menghasilkan prestasi.
“Jangan sampai ditelantarkan karena mereka merupakan bagian penting dalam menyumbangkan prestasi bagi daerah. KONI Sidoarjo juga harus segera memetakan cabang olahraga yang belum tersedia tetapi memiliki potensi prestasi untuk dikembangkan sebagai persiapan menghadapi Porprov 2027,” tegasnya.
Pemetaan cabor tersebut menjadi penting untuk menentukan nomor-nomor yang memiliki peluang menyumbangkan medali, baik dari sektor perorangan maupun beregu.
Dengan agenda pembenahan tata kelola, digitalisasi data dan anggaran, penguatan pembinaan atlet, peningkatan kesejahteraan, serta pemetaan potensi cabor, kepengurusan baru KONI Sidoarjo memiliki waktu sekitar satu tahun untuk mematangkan kekuatan sebelum Porprov Jawa Timur 2027.
Tantangannya bukan sekadar mengejar posisi di papan atas, tetapi juga memastikan target tersebut ditopang sistem organisasi yang lebih tertata, transparan, dan berkelanjutan. (Shadra)
