
NEWSNOID.COM, MALANG, — Limbah kulit kakao yang selama ini belum banyak dimanfaatkan ternyata menyimpan potensi sebagai bahan bernilai tambah. Di tangan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), limbah tersebut dikembangkan bersama ekstrak daun pegagan menjadi sediaan spray yang ditujukan untuk membantu menangani peradangan kulit, khususnya pada area dada dan punggung.
Inovasi tersebut dikembangkan tim mahasiswa UB melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE).
Mereka mengombinasikan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) dan kulit kakao (Theobroma cacao) dalam bentuk sediaan semprot.
Tim penelitian dipimpin Fatla Sela Iracahyono dari Departemen Teknik Biosistem.
Ia berkolaborasi dengan Khesya Olivia, Athaya Nur Febriliana, dan Kristin Angelia dari Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi angkatan 2025, serta Clara Zaaky dari Departemen Farmasi angkatan 2024.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, S.TP., M.Si., Ph.D.
Ketua tim, Fatla Sela Iracahyono, mengatakan gagasan penelitian berawal dari dua persoalan, yakni belum optimalnya pemanfaatan limbah kulit kakao dan keterbatasan produk penanganan jerawat pada area tubuh yang sulit dijangkau, seperti punggung.
“Kami melihat kebanyakan penelitian jerawat hanya fokus pada bakteri Cutibacterium acnes. Padahal, pada jerawat di area punggung dan dada, sering kali ada keterlibatan jamur Malassezia furfur yang menyebabkan peradangan juga. Jadi kami ingin menciptakan formula yang bisa mengatasi keduanya sekaligus,” ujar Fatla, Jumat (18/9/2026).
Menurut Fatla, kulit kakao dipilih karena jumlahnya relatif besar dan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan antimikroba.
“Kulit kakao ini menyumbang sekitar 75,52 persen dari total berat buah kakao, sehingga pemanfaatannya sebagai bahan baku dapat memberikan nilai tambah pada bagian yang berpotensi menjadi limbah. Namun sayangnya masih sangat sedikit yang memanfaatkannya,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kulit kakao diketahui mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid yang berpotensi mengganggu permeabilitas membran serta menghambat metabolisme mikroba.
Sementara itu, daun pegagan dipilih karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif, di antaranya asiaticoside dan madecassoside. Senyawa tersebut memiliki potensi mendukung aktivitas anti-inflamasi serta regenerasi kulit.
“Kami mengombinasikan keduanya karena ingin mendapatkan efek sinergis. Kalau kulit kakao fokus menyerang mikrobanya, pegagan membantu meredakan peradangannya dan memperbaiki skin barrier. Jadi pendekatannya tidak hanya membunuh bakteri, tetapi juga memulihkan kulit,” kata Fatla.
Tak hanya pada komposisi bahan, inovasi juga dilakukan melalui bentuk sediaan. Tim memilih membuat produk dalam bentuk spray karena dinilai lebih praktis untuk digunakan pada area tubuh yang luas dan sulit dijangkau, terutama bagian punggung.
Dibandingkan gel atau krim yang bersifat semipadat dan berpotensi meninggalkan rasa lengket, sediaan semprot cair dinilai memiliki tekstur lebih ringan.
Pengguna juga dapat mengaplikasikannya tanpa harus menyentuh secara langsung area kulit yang mengalami peradangan.
Dalam penelitian tersebut, tim menguji berbagai kombinasi dan rasio kedua ekstrak untuk memperoleh formula dengan aktivitas antimikroba yang optimal terhadap C. acnes dan M. furfur.
Formula terpilih selanjutnya dikembangkan menjadi sediaan spray dan menjalani serangkaian pengujian di laboratorium. Pengujian meliputi karakteristik fisik, stabilitas, tingkat keasaman (pH), hingga aktivitas antimikroba.
Dosen pembimbing, Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, mengapresiasi inovasi tersebut karena dinilai mampu menghubungkan persoalan limbah agroindustri dengan kebutuhan di bidang kesehatan kulit.
“Ini adalah contoh bagus bagaimana mahasiswa berpikir secara interdisipliner. Dari Teknik Biosistem, Teknologi Pangan, dan Farmasi mereka berkolaborasi,” ujarnya.
Menurut Agustin, kolaborasi lintas bidang tersebut memungkinkan kulit kakao dikaji dari perspektif teknologi pengolahan, sementara pegagan dikembangkan berdasarkan potensi senyawa fungsionalnya hingga kemudian diformulasikan menjadi produk sediaan farmasi.
“Inovasi seperti ini yang kita dorong di UB,” tambahnya.
Tim berharap inovasi spray berbahan kulit kakao dan daun pegagan tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu alternatif sediaan topikal berbasis bahan alami.
Di sisi lain, pemanfaatan kulit kakao juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap limbah hasil perkebunan.
Pengembangan penelitian ini turut dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi bahan bernilai tambah.
Saat ini, penelitian masih terus dikembangkan, terutama untuk mengoptimalkan stabilitas sediaan spray dan melakukan uji iritasi. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengevaluasi aspek keamanan sebelum inovasi dikembangkan lebih lanjut menuju proses hilirisasi. (yun)