
NEWSNOID | MALANG – Dari sisi kiri lapangan, Isyana Arsila Farzana ingin membangun jalannya sendiri menuju panggung sepak bola nasional.
Di usianya yang baru 10 tahun, pesepak bola cilik asal Kota Malang ini sudah punya target besar: membela Arema Women dan suatu hari mengenakan seragam Timnas Indonesia.
Bukan mimpi yang kecil bagi seorang anak kelahiran 25 Februari 2016. Namun, Arsila biasa dipanggil tak sekadar menyimpan angan-angan.
Bersama SSB Miftahul Huda Soccer School (MHSS) Malang, tempatnya berlatih sejak 2025, ia mulai mengumpulkan pengalaman dan merasakan manisnya prestasi di lapangan hijau.
Berposisi sebagai sayap kiri, Isyana menempati sektor yang menuntut keberanian, kecepatan, dan kecerdasan membaca permainan.
Dari sisi lapangan, pemain sayap punya tugas membuka ruang, melewati penjagaan lawan, hingga mengirimkan umpan yang bisa berujung gol. Peran yang menantang sekaligus memberinya ruang untuk terus berkembang.
Ada satu nama besar yang menjadi idolanya, Lamine Yamal, bintang muda Barcelona dan Timnas Spanyol. Keberanian Yamal menguasai bola, menghadapi lawan satu lawan satu, dan menciptakan ancaman dari sektor sayap menjadi inspirasi bagi Isyana dalam menekuni sepak bola.
Tentu, perjalanan Isyana masih jauh. Namun, mengidolakan pemain kelas dunia memberinya gambaran tentang kemampuan yang ingin diasah.
Bukan sekadar tampil atraktif, melainkan berani mengambil keputusan, tenang saat menguasai bola, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi tim.
Langkahnya pun mulai dihiasi prestasi. Bersama SDN Sawojajar 6 Kota Malang, Isyana turut meraih gelar juara Malang Mbois 11 Piala Wali Kota Malang dan Asifa Future Malang.
Sementara bersama MHSS, ia menjadi bagian dari tim yang menjuarai Malang Junior Liga (MJL) 2026, ditambah sejumlah prestasi lainnya.
Bagi pemain seusianya, pengalaman kompetisi menjadi modal penting untuk menempa mental bertanding.
Kemenangan memberi kepercayaan diri, sedangkan pertandingan yang sulit menjadi kesempatan untuk belajar.
Di tengah proses itu, Arsila perlu terus memperkuat teknik dasar, memahami taktik, dan menjaga konsistensi latihan.
Sebagai anak pertama pasangan Tonny dan Sulis, Arsila masih memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-citanya.
Sekolah tetap menjadi bagian penting dalam kesehariannya, sementara sepak bola menjadi ruang untuk mengembangkan potensi dan mengejar impian.
“Saya ingin masuk Arema Women, lalu bisa membela Timnas Indonesia. Pemain idola saya Lamine Yamal. Saya ingin terus berlatih supaya semakin jago bermain sepak bola dan cita-cita saya bisa tercapai,” menjadi tekad Arsila dalam menatap masa depannya.
Ada mimpi yang ingin ia kejar, ada kemampuan yang harus terus diasah, dan ada perjalanan panjang yang menanti. Arema Women menjadi salah satu tujuan pertamanya, sedangkan Timnas Indonesia adalah panggung yang ingin ia capai suatu hari nanti.
Isyana memang belum menjadi bintang. Namun, ia telah memulai sesuatu yang penting: berani bermimpi, berani berkompetisi, dan mau menjalani proses.
Dari sisi kiri lapangan di Malang, Isyana Arsila Farzana sedang merintis jalannya sendiri.
Siapa tahu, beberapa tahun mendatang, anak yang kini mengidolakan Lamine Yamal ini tumbuh menjadi pemain sayap yang diperhitungkan dan mendapat kesempatan membawa nama Indonesia di panggung sepak bola dunia. (Red)













