
NEWSNOID.COM | MALANG – Ruang yang lebih besar dinilai perlu diberikan kepada pekerja kreatif independen. Ekosistem ekonomi kreatif Kota Malang dinilai harus lebih terbuka bagi kelompok ini.
Tidak hanya kreativitas yang diminta untuk dikembangkan. Akses pasar juga diminta untuk dimiliki agar karya dapat meningkatkan pendapatan. Peluang usaha juga diharapkan dapat diciptakan dari karya tersebut.
Hal itu menjadi perhatian Hendi Suryo Leksono selaku Sekretaris DPC Gekrafs Kota Malang. Jabatan tersebut baru dilantik pada Kamis (15/10/2026). Hendi yang juga menjabat Ketua Umum HIPMI Kota Malang mendorong sinergi kedua organisasi. Potensi kreator diminta untuk dipertemukan dengan kebutuhan dunia usaha.
Menurut Hendi, ekosistem ekonomi kreatif tidak hanya diisi oleh pengusaha. Pekerja lepas dari berbagai bidang juga dinilai menjadi bagian penting. Bidang fotografi dan profesi kreatif lainnya disebut sebagai contoh.
Wadah dinilai dibutuhkan oleh kelompok ini. Jaringan diminta untuk diperluas, kapasitas diminta untuk ditingkatkan, dan nilai ekonomi karya diminta untuk diperkuat.
“Pelaku ekonomi kreatif sangat beragam, termasuk pekerja kreatif independen yang belum tentu memiliki usaha formal. Mereka juga perlu dirangkul dan diberi kesempatan untuk meningkatkan taraf ekonominya,” ujar Hendi.
Peluang menjangkau pelaku kreatif secara lebih luas dinilai dimiliki oleh Gekrafs. Sementara itu, peran melalui jaringan pengusaha dinilai dapat diambil oleh HIPMI. Akses pasar bagi produk dan jasa kreatif diharapkan dapat dibuka melalui jaringan tersebut.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak dihentikan pada pengembangan kreativitas. Kemitraan bisnis yang memberikan manfaat langsung diminta untuk dilanjutkan bagi para pelaku.
“Para pengusaha yang tergabung dalam HIPMI bisa membuka peluang agar karya-karya pelaku ekonomi kreatif dimanfaatkan dan memiliki akses pasar. Dengan begitu, keduanya bisa saling melengkapi,” katanya.
Hubungan yang lebih erat antara pemilik karya dan pelaku usaha dinilai dibutuhkan oleh Hendi. Penguatan ekonomi kreatif dinilai tidak dapat dilepaskan dari hubungan tersebut. Tanpa akses pasar yang memadai, potensi kreatif dinilai berisiko tidak berkembang optimal. Sumber pendapatan dan kegiatan ekonomi berkelanjutan dinilai sulit diwujudkan.
Upaya memperkuat jejaring pelaku kreatif tersebut dinilai sejalan dengan komitmen Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Potensi anak muda, mahasiswa, komunitas, dan pelaku usaha kreatif diminta untuk terus didorong.
Besarnya potensi kreatif Kota Malang ditegaskan oleh Wahyu harus diarahkan secara tepat. Penciptaan karya berkualitas, pertumbuhan usaha, dan pembukaan lapangan kerja diminta untuk dijadikan tujuan.
“Potensi ekonomi kreatif Kota Malang sangat besar. Kita punya anak-anak muda dan mahasiswa dengan berbagai kreativitas. Ini harus kita dorong agar menghasilkan karya berkualitas, mengembangkan usaha kreatif, dan membuka lapangan kerja,” ujar Wahyu.
Optimalisasi Malang Creative Center (MCC) juga didorong oleh Pemerintah Kota Malang. Ruang pengembangan ide dan kolaborasi lintas komunitas diharapkan dapat disediakan melalui fasilitas tersebut. Pertumbuhan berbagai subsektor diharapkan dapat didukung, mulai dari fesyen, film, gim, hingga musik.
Predikat Kota Kreatif Dunia dari UNESCO diingatkan oleh Wahyu harus diikuti perkembangan nyata. Banyaknya komunitas atau kegiatan dinilai tidak cukup dijadikan ukuran keberhasilan. Kualitas karya, keberlanjutan usaha, dan dampak ekonomi yang dihasilkan dinilai menjadi ukuran utama.
“Predikat Kota Kreatif Dunia yang ditetapkan UNESCO harus kita buktikan dengan semakin banyaknya karya berkualitas, tumbuhnya usaha kreatif, dan terbukanya lapangan kerja,” tegasnya.
Sinergi Gekrafs, HIPMI, dan pemerintah daerah dinilai menjadi peluang besar. Rantai ekonomi kreatif di Kota Malang diharapkan dapat diperkuat melalui sinergi tersebut. (win)




















