
NEWSNOID.COM | MALANG – Kebakaran besar melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang Kota Malang. Lebih dari separuh area sampah dilaporkan hangus terbakar akibat pembakaran lahan di luar area TPA.
Peristiwa tersebut disampaikan langsung oleh Plt Kepala DLH Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP, mengatakan bahwa pembakaran sampah di barongan bambu atau barongan pring di sisi selatan TPA Supit Urang dinilai sangat disesalkan.
Menurut Reymond, angin kencang menjadi pemicu cepatnya perambatan api. Titik api disebut dengan cepat melewati sungai yang berada di TPA Supit Urang. Kejadian diperkirakan terjadi sekitar pukul 12.30 hingga pukul 13.00 WIB.
“Angin kemarin cukup kencang banget. Titik api dengan cepat merambat melewati sungai yang ada di TPA Supit Urang,” ujar Reymond.(22/10/2026)
Luas area yang terdampak dijelaskan secara rinci. Area old landfill TPA Supit Urang seluas kurang lebih 4 hektare dilaporkan terbakar. Area new landfill seluas 4 hektare juga ikut terbakar.
Secara keseluruhan, total area sampah di TPA tersebut mencapai 12 hektare. Dari total tersebut, lebih dari separuhnya dilaporkan dilalap api.
Pemadaman telah dilakukan hingga malam hari. Hingga pukul 12 malam, pemadaman terus dilakukan oleh petugas, namun kondisi belum 100 persen terkondisi.
“Separuh lebih dari 12 hektare kena api. Sampai jam 12 malam teman-teman sudah melakukan pemadaman, tapi belum semuanya terkondisi,” jelasnya.
Pagi ini, timbulan api masih terlihat di beberapa titik. Asap pekat dinilai menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Petugas PMK dan DLH sempat kesulitan melakukan visual karena pekatnya asap.
Hingga semalam, api besar berhasil dipadamkan dan hanya menyisakan titik-titik api kecil. Namun, proses pemadaman masih terus dilanjutkan hingga hari ini.
Pemadaman dilakukan bersama oleh PMK Kota Malang dan PMK Kabupaten Malang. Bantuan juga didatangkan dari PU Provinsi pada pagi ini. Luas total hamparan sampah landfill di TPA Supit Urang sendiri disebut mencapai sekitar 20 hektare. Tuntasnya pemadaman diharapkan dapat dicapai hari ini.
Gas Metan Diupayakan Diperkecil
Terkait gas metan yang ada di TPA, upaya untuk mematikan atau memperkecil gas tersebut selama ini telah dilakukan. Penyiraman dan pengurukan tanah terus dilakukan oleh petugas agar gas metan dapat diminimalisir sehingga api tidak semakin membesar.
Pengalaman 3 hingga 5 tahun lalu menjadi pelajaran. Saat itu pemadaman sampai memakan waktu 3 hari karena gas metan masih digunakan untuk bahan bakar.
Sementara itu, sumber awal api dipastikan bukan berasal dari dalam area TPA. Hasil pengecekan yang telah dilakukan oleh Kapolsek Sukun dan jajaran kepolisian menunjukkan pembakaran terjadi di sisi selatan TPA, di luar area TPA.
Pembakaran sampah diduga dilakukan oleh pegawai peternakan ayam yang ada di sekitar lokasi. Sampah yang dibakar kemudian merambat ke bambu.
Rambatan api diperparah dengan kondisi rumput kering di sekitar lokasi. Angin kencang kemudian membuat api melebar melewati sungai dan masuk dari sisi selatan hingga ke sisi utara TPA Supit Urang.
Patroli Rutin Akan Digelar
Tindak lanjut dari kejadian ini masih dalam proses. Koordinasi dengan desa akan dilakukan hari ini untuk memastikan pemilik kandang ayam tersebut.
Patroli rutin di sekitar TPA juga direncanakan akan diperketat. Pembakaran lahan di sisi-sisi TPA diharapkan tidak terjadi lagi.
Lokasi pembakaran yang berdekatan dengan landfill dinilai sangat berisiko karena rumput kering sangat mudah tersulut.
Posisi pengawasan harian sebenarnya telah dilakukan oleh petugas. Namun, api diketahui sudah membesar saat berada di barongan bambu sisi selatan.
Penyiraman awal sempat dilakukan, namun area yang cukup luas membuat api lebih cepat menyebar. Kejadian serupa disebut sudah terjadi lebih dari 3 kali.(win)




















