
newsnoid.com, Malang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdikbud Kota Malang menyatakan optimistis sekolah swasta akan menjadi solusi bagi ribuan lulusan SD yang tidak tertampung di SMP negeri pada Sistem Penerimaan Murid Baru SPMB Tahun Ajaran 2026/2027.
Optimisme itu muncul karena ketimpangan antara jumlah lulusan dan daya tampung sekolah negeri yang masih jauh.
Berdasarkan data Disdikbud Kota Malang, tahun ini jumlah lulusan SD mencapai lebih dari 14 ribu siswa. Sementara kapasitas SMP negeri di seluruh Kota Malang hanya sekitar 7.500 kursi.
Artinya, lebih dari 6.500 lulusan harus mencari alternatif sekolah lain. Kondisi ini sudah diprediksi sejak awal karena jumlah SMP negeri tidak bertambah signifikan, sedangkan jumlah lulusan SD terus stabil.
Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana menegaskan peran sekolah swasta dan Madrasah Tsanawiyah MTs sangat strategis. Apalagi MTs negeri di Kota Malang hanya ada dua lembaga, sehingga kapasitasnya juga terbatas.
“Daya tampung SMP negeri tidak sebanding dengan jumlah lulusan SD. Karena itu, sekolah swasta memiliki peran strategis dalam memastikan seluruh peserta didik tetap memperoleh akses pendidikan,” ujar Suwarjana saat ditemui di kantornya, Rabu 24 Juni 2026.
Meski kapasitas terbatas, minat orang tua ke SMP negeri masih sangat tinggi. Banyak calon siswa dan orang tua memilih menunggu pengumuman akhir SPMB SMP negeri sebelum mendaftar ke sekolah swasta.
Kebiasaan itu membuat sekolah swasta belum merasakan lonjakan pendaftar di awal SPMB. Sekolah swasta cenderung baru kebanjiran pendaftar setelah hasil seleksi SMP negeri selesai dan kuota dinyatakan penuh.
Disdikbud memahami fenomena ini. Namun pihaknya terus mendorong orang tua untuk mempertimbangkan sekolah swasta sebagai pilihan utama, bukan sekadar pilihan terakhir.
Suwarjana menyebut kualitas pendidikan di sekolah swasta Kota Malang tidak kalah dengan sekolah negeri. Beberapa sekolah bahkan sudah menerapkan program unggulan, kurikulum berbasis proyek, hingga kerja sama dengan industri.
Yang menarik, sejumlah sekolah swasta kini juga membuka program pendidikan gratis atau beasiswa penuh bagi siswa berprestasi dan siswa dari keluarga kurang mampu. Program ini diharapkan bisa mengurangi kekhawatiran orang tua soal biaya.
“Kualitasnya sudah kompetitif. Bahkan ada sekolah swasta yang lulusannya diterima di SMA favorit dan perguruan tinggi ternama. Jadi jangan ragu memilih swasta,” jelasnya.
Berbeda dengan SMP, pada jenjang SD justru masih ada sekolah yang belum memenuhi kuota. Kondisi ini banyak terjadi di wilayah pinggiran Kota Malang seperti Kedungkandang dan Sukun.
Untuk mengoptimalkan, Disdikbud membuka pendaftaran SD terus berjalan sampai kuota terpenuhi. Calon siswa dari luar daerah juga dipersilakan mendaftar asal memenuhi syarat administrasi dan usia minimal 6 tahun per 1 Juli 2026.
Langkah ini diambil agar tidak ada SD negeri yang sepi peminat sementara sekolah lain kelebihan kapasitas.
Disdikbud memastikan tidak ada lulusan SD di Kota Malang yang putus sekolah karena tidak dapat tempat. Semua siswa akan tetap mendapat akses pendidikan melalui tiga jalur: SMP negeri, SMP swasta, dan MTs.
Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi ke orang tua dan sekolah dasar agar sejak awal tidak hanya fokus ke sekolah negeri. Pemetaan zonasi, afirmasi, dan jalur prestasi di SPMB juga terus disempurnakan agar lebih adil.
“Kami ingin semua anak tetap sekolah. Negeri, swasta, MTs, semuanya bagian dari sistem pendidikan Kota Malang. Yang penting anaknya belajar dan masa depannya terjamin,” tutup Suwarjana.
Dengan skema ini, Disdikbud berharap SPMB 2026/2027 berjalan lancar tanpa ada siswa yang tertinggal. Tantangan terbesar sekarang adalah mengubah persepsi masyarakat agar sekolah swasta dilihat setara dengan sekolah negeri.
(win)
