
newsnoid.com, Malang – Dinas Perhubungan Kota Malang merespons aspirasi ini dengan langkah-langkah konkret. Program Angkot Pelajar Gratis ini memanfaatkan sekitar 80 angkot eksisting untuk antar-jemput siswa sekolah, di mana biaya operasional kendaraan dibayarkan oleh pemerintah kota.
Pelibatan Sopir Trans Jatim Dishub membuka peluang bagi para sopir angkot untuk menjadi kru atau bagian dari operasional Bus Trans Jatim, asalkan lolos tahapan seleksi dan penilaian kompetensi.
Melalui Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memastikan program angkutan pelajar tidak akan menggunakan armada sembarangan. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang menegaskan, hanya Angkutan Kota (Angkot) yang memenuhi persyaratan dan memiliki Kartu Pengawasan (KPS) yang akan melayani pelajar.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan bahwa kesiapan armada menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program angkutan pelajar berbasis angkutan kota.
Terlebih, masih terdapat sejumlah Angkot yang secara fisik membutuhkan perbaikan.
“Adapun dalam uji kir itu ada kelayakan dari kendaraan itu sendiri, misalnya pengereman, lampu dan sebagainya,” kata Widjaja.
“Yang menjadi kata kuncinya adalah memenuhi syarat ialah. Memenuhi syarat itu adalah KPS (Kartu Pengawasan). Itu merupakan standar yang harus dimiliki oleh angkutan kota yang memberikan layanan kepada masyarakat,” ujar Widjaja, pada Rabu (15/07/2026) siang.
Dengan adanya kepemilikan KPS, tambahnya, maka menunjukkan bahwa armada telah memenuhi sejumlah persyaratan, baik administrasi maupun kelayakan kendaraan. Diantaranya, kelengkapan STNK, BPKB, hingga hasil uji kir kendaraan
“Dalam hal mengenai fisik, kita pahami ada yang tidak sesuai. Tetapi yang terpenting sudah kita sampaikan kepada mereka, tolong layakkan, bangkunya diperbaiki dan seterusnya. Itu sudah dilakukan,” tuturnya.
Dari data bertotal 199 angkot yang telah memiliki KPS, Dishub Kota Malang saat ini menyiapkan sekitar 80 armada untuk tahap awal program angkutan pelajar. “Yang bisa kita kontrak saat ini minimal 80 angkutan dari 199 angkutan yang ber-KPS,” jelas Widjaja.
Ia mengakui, dari sisi tampilan fisik masih terdapat Angkot yang belum ideal. Namun, pihaknya telah meminta para pemilik kendaraan melakukan pembenahan agar lebih nyaman digunakan oleh pelajar.
“Terapan mengenai fisik, kita pahami ada yang tidak sesuai. Tetapi yang terpenting sudah kita sampaikan kepada mereka, tolong layakkan, bangkunya diperbaiki dan seterusnya. Itu sudah dilakukan,” ujar Widjaja.
Widjaja menambahkan, program tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan transportasi bagi pelajar, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali angkutan kota yang selama ini mengalami penurunan penumpang.
“Ini dalam rangka memberikan perluasan kesempatan kepada rekan-rekan angkutan kota supaya bisa hidup kembali,” tutupnya Widjaja. (Gih)