
NEWSNOID.COM, MALANG — Trans Jatim kembali diperluas layanannya dengan Koridor II yang menghubungkan Kota Malang dengan Kepanjen, Kabupaten Malang dan ditargetkan mulai mengaspal pada Oktober 2026.
Koridor ini akan membentang sekitar 49 kilometer, menghubungkan sejumlah kawasan strategis di Kota Malang hingga Kabupaten Malang dengan melintasi sejumlah terminal sebagai simpul transportasi.
Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Cito Eko Yuly Saputro, mengatakan perjalanan Trans Jatim Koridor II akan dimulai dari Terminal Arjosari dan berakhir di Terminal Talangagung, Kepanjen.
“Rutenya dari Terminal Arjosari, Jalan Panji Suroso, Araya, Jalan S. Priyo Sudarmo, Jalan Sulfat, Jalan Danau Kerinci, Jalan Danau Toba, Jalan Ki Ageng Gribig, Terminal Madyopuro, Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Mayjen Sungkono, Terminal Hamid Rusdi, Jalan Sempal Wadak, Jalan Krebet, Terminal Gondanglegi, Jalan Trunojoyo, Jalan Panji, Jalan Sultan Agung, Jalan Kawi, Terminal Talangagung,” ungkapnya
Dengan jalur tersebut, layanan Trans Jatim Koridor II akan melewati sejumlah simpul transportasi, mulai dari Terminal Arjosari, Terminal Madyopuro, Terminal Hamid Rusdi, Terminal Gondanglegi hingga Terminal Talangagung.
“Panjang keseluruhan perjalanan diperkirakan mencapai sekitar 49 kilometer dengan waktu tempuh dari terminal awal menuju terminal akhir sekitar 1 jam 50 menit,” ujarnya.
Cito menilai koridor ini memiliki potensi pergerakan penumpang yang cukup tinggi. Pasalnya, rute tersebut menghubungkan beberapa kawasan dengan aktivitas transportasi yang cukup padat.
“Ini adalah rute yang cukup tinggi karena melalui Terminal Arjosari, Terminal Madyopuro, dan bisa integrasi dengan Koridor I di Hamid Rusdi juga,” jelasnya.
Integrasi antarkoridor tersebut diharapkan dapat memperluas konektivitas transportasi publik bagi masyarakat yang melakukan perjalanan di kawasan Malang Raya.
Untuk wilayah Kota Malang, bus Trans Jatim Koridor II direncanakan masuk melalui Terminal Arjosari tipe C. Skema tersebut sekaligus diharapkan dapat menghidupkan kembali aktivitas terminal yang dikelola Pemerintah Kota Malang.
Sementara itu, Kepala Dishub Kota Malang, R. Widjaja Saleh Putra, mengatakan rencana rute Trans Jatim Koridor II di wilayah Kota Malang masih dalam tahap pematangan dan sinkronisasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Salah satu opsi jalur yang mengemuka adalah melewati kawasan Jalan Sulfat atau wilayah Kecamatan Blimbing,” ungkapnya
“Opsi tersebut dipertimbangkan dibandingkan Jalan Soekarno-Hatta untuk menghindari potensi gesekan dengan trayek angkutan kota (angkot) yang sudah beroperasi,” tambah Widjaja
Menurut Widjaja, keberadaan Trans Jatim juga tidak diarahkan untuk mengesampingkan angkutan kota yang selama ini menjadi bagian dari sistem transportasi masyarakat.
Dishub Kota Malang memastikan sopir angkot akan dilibatkan dalam skema pengembangan layanan. Bentuk keterlibatan tersebut dapat berupa pengemudi, tenaga pendukung, maupun melalui pengembangan kendaraan pengumpan atau feeder.
Di sisi lain, Pemprov Jatim menargetkan Koridor II tersebut dapat mulai beroperasi pada Oktober 2026. Namun, tanggal pasti peluncurannya masih belum ditentukan.
“Insyaallah kita mengaspal bulan Oktober, tapi tanggalnya belum ditentukan. Itu program prioritas Pemprov Jatim yang harus terlaksana tahun ini,” pungkas Widjaja
Jika terealisasi sesuai target, hadirnya Trans Jatim Koridor II akan menambah pilihan transportasi publik yang menghubungkan Kota Malang dengan wilayah Kabupaten Malang hingga Kepanjen.
“Selain memangkas ketergantungan pada kendaraan pribadi, koridor baru ini juga membuka peluang konektivitas yang lebih terintegrasi melalui sejumlah terminal dan titik simpul transportasi yang dilaluinya,”pungkasnya. (yun).