
newsnoid.com, Malang – Dinas Kesehatan Kota Malang gencarkan pencegahan terus upaya untuk penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) melalui program skrining aktif di berbagai wilayah yang ada di Kota Malang.
Hingga 21 Mei 2026, dari ratus hingga angka ribuan warga yang menjalani pemeriksaan, ditemukan 17 kasus positif TBC yang kini telah mendapatkan pengobatan di puskesmas yang ada di lima Kecamatan di Kota Malang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan kepada awak media bahwa proses penentuan seseorang terpapar TBC tidak cukup hanya melalui skrining awal atau pemeriksaan rontgen dada (X-ray). Kepastian diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Bila sudah ada terlihat di indikasi atau masuk kategori suspek, untuk memastikan TBC itu harus dilakukan pemeriksaan dahak menggunakan TCM. Sampelnya dikirim ke puskesmas wilayah dan hasilnya biasanya keluar dalam waktu sekitar dua hari,” ujarnya, pada Selasa (9/6/2026) siang.
Husnul memaparkan, hingga pertanggal 21 Mei 2026 terdapat 3.158 ribu warga yang hadir memenuhi undangan pemeriksaan kesehatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.936 orang menjalani skrining X-ray.
Dari hasil pemeriksaan X-ray diprioritaskan bagi warga yang memiliki faktor risiko, seperti mengalami batuk berkepanjangan, memiliki riwayat diabetes melitus, pernah kontak erat dengan penderita TBC, atau menunjukkan gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
“Dari hitungan 2.936 orang yang menjalani X-ray, sebanyak 1.662 orang dinyatakan sebagai suspek atau tersangka TBC sehingga perlu pemeriksaan lanjutan,” jelas Husnul.
Dari 1.662 suspek tersebut, sebanyak 1.433 orang berhasil menjalani pemeriksaan dahak menggunakan TCM. Sisanya belum dapat diperiksa karena sebagian tidak mampu mengeluarkan dahak saat pengambilan hasil sampel.
Dari hasil pemeriksaan tersebut TCM menunjukkan 17 orang dinyatakan positif TBC, sementara 667 orang hasilnya negatif. Selain itu, masih terdapat ratusan sampel yang saat itu masih menunggu proses konfirmasi dan hasil laboratorium.
Ia menegaskan dalam penemuan kasus positif justru menjadi bagian penting dari strategi pengendalian TBC. Pemerintah ingin menemukan penderita sedini mungkin agar dapat segera diobati dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
“Tagline kami dari TOSS TB, yaitu Temukan Obati Sampai Sembuh. Ketika ditemukan positif, langsung kami obati di puskesmas wilayah masing-masing,” katanya.
Pengobatan TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan. Pada dua bulan pertama pasien menjalani fase intensif dengan konsumsi obat setiap hari.
Setelah itu dilanjutkan fase lanjutan selama empat bulan dengan jadwal minum obat tiga kali dalam seminggu.
Program skrining ini juga terus diperluas ke seluruh wilayah Kota Malang. Hingga 21 Mei 2026, kegiatan telah menjangkau 23 dari total 57 kelurahan yang ada di Malang.
Jumlah suspek yang ditemukan tahun ini cukup tinggi, dr. Husnul menegaskan hal itu tidak serta-merta menunjukkan peningkatan kasus TBC. Menurutnya, tingginya angka suspek lebih disebabkan metode penjaringan yang kini lebih aktif dibanding tahun sebelumnya.
“Dari tahun lalu kami belum menggunakan metode skrining seperti sekarang, sehingga penjaringan suspek tidak sebanyak tahun ini. Namun jika melihat dari 1.433 suspek yang diperiksa dan hanya 17 yang positif, maka tidak menunjukkan adanya peningkatan kasus TBC yang signifikan,” ungkapnya.
Dinkes Kota Malang akan menargetkan deteksi dini terus akan diperluas agar rantai penularan TBC dapat diputus lebih cepat sekaligus meningkatkan angka kesembuhan penderita di Kota Malang, pungkasnya (Gih).