
NEWSNOID.COM | MALANG – Nama besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali terseret dalam pusaran dinamika politik nasional. Kemunculan sejumlah flayer di media sosial yang mencatut nama Gus Dur untuk membangun narasi penolakan terhadap wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memantik protes keras dari DPC Barisan Kader Gus Dur Kota Malang.
Organisasi yang mengawal nilai dan pemikiran Gus Dur tersebut menilai penggunaan nama mantan Presiden RI itu tidak pada tempatnya.
Apalagi, materi flayer tersebut dinilai berpotensi membangun persepsi seolah-olah Gus Dur memiliki kedekatan ideologis dan kesamaan garis perjuangan dengan Gibran.
Ketua DPC Barisan Kader Gus Dur Kota Malang, Dersi Hariono (Gus Der), menegaskan bahwa pihaknya menolak keras segala bentuk pencatutan nama Gus Dur untuk kepentingan politik kelompok maupun simpatisan tertentu.
Menurutnya, Gus Dur memiliki kapasitas, kredibilitas, rekam jejak, serta perjalanan perjuangan yang tidak bisa begitu saja disandingkan dengan Gibran. Keduanya berada dalam konteks sejarah dan realitas politik yang berbeda.
“Pertama, Gus Dur tidak memiliki hubungan maupun ikatan, baik secara ideologi maupun garis perjuangan dengan Gibran. Jadi, jangan membangun narasi seolah-olah Gus Dur memiliki keterkaitan politik dengan Gibran,” tegas Gus Der, (6/11/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa membandingkan Gus Dur dengan Gibran tanpa memahami rekam jejak dan kapasitas masing-masing merupakan bentuk penyederhanaan terhadap sejarah dan perjuangan seorang tokoh bangsa.
Gus Der menilai, dinamika politik pada masa pemerintahan Gus Dur tidak bisa disamakan dengan situasi politik Indonesia saat ini. Setiap periode memiliki persoalan, tantangan, serta konfigurasi politik yang berbeda.
Karena itu, penggunaan nama Gus Dur dalam flayer yang diarahkan untuk membangun dukungan terhadap Gibran sekaligus menolak wacana pemakzulan dinilai sebagai tindakan yang tidak pantas.
“Kami sangat keberatan dan mengutuk pencatutan nama Gus Dur dalam flayer tersebut. Jangan sampai nama besar Gus Dur dipakai untuk membelah opini publik, apalagi dijadikan alat propaganda untuk kepentingan politik tertentu,” tandasnya.
Ia menegaskan, penghormatan terhadap Gus Dur semestinya diwujudkan dengan menjaga pemikiran, nilai perjuangan, dan keteladanan yang diwariskannya, bukan justru menyeret namanya ke dalam pertarungan politik yang sedang berlangsung.
Bagi Barisan Kader Gus Dur, nama Gus Dur bukan instrumen untuk membangun legitimasi politik siapa pun. Warisan pemikirannya merupakan bagian dari sejarah bangsa yang harus dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan secara sepihak.
Di tengah menghangatnya dinamika politik nasional, Gus Der berharap seluruh elemen masyarakat tetap mengedepankan kedewasaan, etika, dan persatuan.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan keberkahan, kedamaian, dan petunjuk bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya. (win)




















