
NEWSNOID.COM, MALANG — Program Museum Keliling yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mendapat sambutan antusias dari para siswa SMP Negeri 15 Malang, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya serta berbagai peninggalan lokal yang tersimpan di Museum Mpu Purwa. Sejumlah koleksi dan replika benda bersejarah turut dibawa langsung ke lingkungan sekolah sehingga siswa tidak harus datang ke museum untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.
Kepala SMPN 15 Malang, Suwaiba, S.Pd., mengatakan, kegiatan Museum Keliling merupakan kesempatan yang sangat baik bagi para siswa untuk memahami bahwa museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah.
Menurutnya, setiap koleksi yang berada di museum memiliki cerita dan nilai sejarah yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
“Dari benda-benda yang ada di museum, kita bisa melihat cerita di balik benda tersebut. Bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat di masa lalu hingga akhirnya kita berada di masa sekarang,” ujarnya
Ia menegaskan, pemahaman terhadap sejarah dan budaya menjadi penting bagi generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya dari luar.
“Anak-anak tidak boleh kehilangan jati diri bangsa. Kita harus berusaha melestarikan budaya kita, mempertahankan nilai-nilai luhur, tata krama, dan budi pekerti yang ada sejak zaman dahulu,” pesannya.
Suwaiba juga meminta para siswa mengikuti kegiatan tersebut secara aktif. Tidak hanya melihat dan mendengarkan, tetapi juga berani bertanya serta memahami informasi yang disampaikan.
Sementara itu, Penanggung Jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi atau akrab disapa Sam Raka, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan bidang kebudayaan Disdikbud Kota Malang.
Program Museum Keliling menyasar sejumlah sekolah, baik SMP negeri maupun swasta, secara bergiliran.
Langkah tersebut dilakukan karena tidak semua sekolah memiliki kesempatan untuk berkunjung langsung ke Museum Mpu Purwa.
“Tidak semua sekolah biasanya berkunjung ke sana, sehingga kami yang datang ke sekolah. Memang ada agenda Museum Keliling untuk mengenalkan koleksi dan pengetahuan sejarah lokal kepada para siswa,” jelasnya.
Dalam kegiatan di SMPN 15 Malang, pihaknya membawa sejumlah koleksi dan replika untuk diperkenalkan kepada siswa. Di antaranya replika topeng, keris, mata tombak, arca megalitik muda yang diduga sebagai Arca Panji serta replika Arca Prajnaparamita yang dikenal sebagai Arca Ken Dedes.
“Dari sini kita munculkan pengetahuan lokal yang ada di Kota Malang. Itu yang kita bawa ke tingkat sekolah menengah,” katanya.
Sam Raka menambahkan, Museum Keliling pada 2026 dijadwalkan berlangsung tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Senin, Rabu dan Kamis, selama kurang lebih satu bulan.
Menurutnya, pengenalan sejarah lokal perlu dilakukan secara lebih intensif, khususnya kepada generasi muda. Sebab, masih ditemukan pelajar yang belum memahami tokoh maupun sejarah yang berkaitan dengan wilayah tempat mereka tinggal.
“Ketika kita pancing dengan pertanyaan tentang tokoh lokal seperti Mpu Purwa dan Tunggul Ametung, masih ada yang kurang mengerti. Bahkan untuk penyebutan nama Ken Dedes juga masih sering keliru. Hal-hal seperti ini yang perlu kita luruskan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, materi yang diberikan dalam Museum Keliling disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk siswa sekolah dasar, materi dibuat lebih ringan. Sementara bagi siswa SMP, materi sejarah yang disampaikan dapat dibuat lebih mendalam dan interaktif.
Antusiasme siswa SMPN 15 Malang terlihat sepanjang kegiatan. Mereka tidak hanya menyimak penjelasan mengenai koleksi museum, tetapi juga diajak berdiskusi dan mengenali sejarah lokal melalui benda-benda yang ditampilkan.
Sam Raka berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya daerahnya.
“Intinya, jangan melupakan peninggalan lokal kita. Tetap saling menghormati dan bertoleransi. Kita harus menghormati peninggalan budaya dari sisi akademik dan pelestarian, bukan dari sisi keyakinan,” tegasnya.
Selain mengenalkan koleksi Museum Mpu Purwa, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat kesadaran pelajar bahwa sejarah dan budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas Kota Malang yang harus terus dipahami dan dilestarikan.(yun)
