
newsnoid.com, Malang — Mural ikonik “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang menuai kecaman setelah ditimpa tulisan “Malang Menyala Bersama” dalam rangkaian Festival Mbois 11.
Foto perubahan dinding tersebut viral di media sosial dan memicu kritik dari warganet. Mural dengan warna biru dan tulisan besar itu diketahui sudah ada sejak 2016.
Karya tersebut dibuat komunitas supporter sebagai bentuk identitas warga Malang dan kecintaan kepada Arema.
Banyak netizen menyayangkan karya yang sudah lama menjadi penanda kawasan itu justru ditimpa untuk kepentingan kegiatan baru.
Kritik juga menyoroti kurangnya komunikasi dan penghargaan terhadap karya yang lebih dulu ada di ruang publik.
Menanggapi polemik, panitia Festival Mbois menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
“Izin mewakili kawan-kawan panitia, kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terkait tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ yang sebelumnya sudah ada,” tulis panitia dalam pernyataan yang beredar.
Panitia mengakui bahwa tulisan tersebut memiliki cerita, makna dan kebanggaan tersendiri bagi komunitas dan masyarakat Malang.
Sebagai bentuk tanggung jawab, panitia berkomitmen mengecat ulang dan membuat kembali mural “Malang The Glory Land” seperti semula.
“Kami berkomitmen untuk mengecat dan membuat kembali tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ seperti sebelumnya,” lanjut pernyataan itu.
Panitia juga membuka ruang bagi pihak yang sebelumnya terlibat dalam pembuatan mural untuk ikut dalam proses pengecatan ulang.
Menurut mereka, keterlibatan bersama diharapkan bisa menghidupkan kembali ruang tersebut dengan semangat kebersamaan.
Festival Mbois 11 mengusung tema “Malang Menyala”. Salah satu rangkaiannya adalah aktivasi mural untuk menghidupkan ruang kreatif dan seni visual di Kota Malang.
Namun pelaksanaannya berbenturan dengan keberadaan karya lama yang sudah memiliki nilai sejarah bagi warga.
Peristiwa ini memunculkan diskusi soal etika berkarya di ruang publik. Bagi sebagian masyarakat, mural bukan hanya gambar di dinding, tetapi juga merepresentasikan sejarah, identitas komunitas dan memori kawasan.
Dalam pernyataannya, panitia juga mengajak masyarakat menjaga Kota Malang sebagai ruang kebanggaan, ruang berkarya dan ruang kebersamaan.
Panitia meminta doa restu untuk penyelenggaraan Festival Mbois 11 dan rencana menyalakan Stadion Gajayana sebagai bagian dari rangkaian “Malang Menyala”.
Kini publik menunggu realisasi pengembalian mural tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kreativitas di ruang publik perlu memperhatikan karya, sejarah dan identitas yang sudah lebih dulu tumbuh di lokasi tersebut. (red)
