
newsnoid.com, Batu – Band underground beraliran punk rock, Brain Wash dengan slogan “Theraphy Syaraf Punk Rock” asal Kota Batu, Jawa Timur, Indonesia, menyuarakan aspirasi dan kritik tajam melalui lagu-lagu mereka.
Dengan total delapan lagu, band punk yang digawangi Eko Sabdianto (Kurowo), Agus Adianto (Kentir), dan Zulkifli (Sinting) ini menjadi penegasan sikap bermusik Brain Wash yang dikenal konsisten, jujur, keras, dan berani.
Brain Wash memilih karya yang sudah ada sebelumnya, namun dengan sentuhan baru yang membuat lagu-lagu mereka semakin tajam dan kritis. Lagu “Teman Bang***” menjadi salah satu contoh, yang terinspirasi dari pengalaman Kurowo tentang persahabatan yang berubah menjadi penghianatan.
“Lagu Teman Bang*** berbicara tentang perhabatan yang berubah menjadi permusuhan, dimana kala itu kami berkomitmen untuk menjalin persahabatan selamanya, ternyata dia (teman-red) menghindari dengan menciptakan permusuhan, bahkan membunuh karakter dengan menebar fitnah dan isu-isu negatif tentang saya,” jelas Kurowo.
Dalam waktu dekat, Brain Wash bakal masuk ke dapur rekaman dan melaunching beberapa lagu baru.
“Ya, pastinya ketika semua materi lagu selesai segera kami launching, karena kami harus juga membagi waktu antara bekerja dan bermain musik,” ungkap Kurowo.
Agus Adianto, drummer Brain Wash, menambahkan bahwa mereka masih mematangkan sejumlah lagu-lagu yang bakal di rekam dan di launching tersebut.
“Saat ini di tengah kesibukan, kami meluangkan waktu untuk rutin latihan dengan tujuan mematangkan lagu, serta ada tambahan lagu baru yang pastinya easy listening,” ujarnya.
Zulkifli, sang bassist, juga menambahkan bahwa Brain Wash selalu eksis bermusik walaupun di tengah-tengah personilnya juga memiliki kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan.
“Yang pasti kami selalu berkomitmen bermusik, namun juga harus bisa membagi waktu antara bekerja, terlebih membagi waktu untuk keluarga seperti anak dan istri,” tandasnya.
Lagu-lagu Brain Wash menjadi bentuk kritik terbuka terhadap ketimpangan dan ketidakadilan, yang juga menyoroti budaya bullying, intimidasi dan penghakiman sosial. Sebagai lagu penyemangat, Brain Wash melakukan gerakan perlawanan dari mereka yang terus bertahan meski ditekan keadaan dan ketidakadilan.
Bagi Brain Wash, musik bukan hanya sekadar hiburan saja, melainkan juga sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi, keluh kesah, ungkapan isi hati dan sikap serta ideologi, namun tidak idealis dengan harapan bisa menjadi pintu masuk bagi pendengar baru untuk mengenal lebih dekat tentang musik punk.(ed).
