
newsnoid.com, Malang – Kota Malang bersiap menjadi tuan rumah puncak peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 7–8 Februari 2026 di Stadion Gajayana.
Acara akbar ini diperkirakan dihadiri sekitar 50 ribu hingga 80 ribu jamaah dari berbagai daerah, sehingga potensi kepadatan lalu lintas di pusat kota tidak dapat dihindari.
Untuk menyukseskan kegiatan tersebut, gabungan elemen masyarakat dari Malang Peduli Demokrasi (MPD), Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang, Pemuda Pancasila (PP) Kota Malang, serta Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang turut berpartisipasi dengan mendirikan posko bersama di Rumah Makan Kertanegara, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Presiden MPD, Imam Muslich, menyampaikan bahwa gabungan elemen masyarakat ini akan memberikan bantuan berupa ambulans, obat-obatan ringan, makanan, serta minuman seperti kopi dan teh untuk para jamaah yang hadir.
“Saya tidak menargetkan (bantuan) jumlah tertentu. Sampai hari ini donasi terus berjalan. Teman-teman dari FKAUB, INTI, dan MPD terus memberi dukungan karena ini untuk kemanusiaan dan kebaikan Kota Malang,” ujar Imam Muslich.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal FKAUB Malang, Pendeta David Tobing, menilai peringatan Harlah NU kali ini memiliki makna yang berbeda dibanding dua tahun lalu di Sidoarjo. Menurutnya, dukungan lintas agama dan lintas organisasi menjadi bukti kuatnya semangat moderasi di Kota Malang.
“Kita berharap ada resonansi bagi dunia bahwa Kota Malang adalah kota yang sungguh-sungguh moderat. Ini dibuktikan dengan dukungan para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Warnanya adalah pelangi nusantara dari Kota Malang untuk Indonesia, wujud nyata Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Dari unsur kepemudaan, perwakilan Pemuda Pancasila Kota Malang, Imam Muchlis, menegaskan kesiapan organisasinya untuk membantu pengamanan.
PP akan mengerahkan personel di titik-titik strategis demi menjaga kondusivitas acara.
“Kami siap membackup keamanan dan menciptakan suasana yang kondusif. Kota Malang harus tetap damai, berpedoman pada NKRI harga mati dan Pancasila abadi,” ujarnya.
Perwakilan INTI Malang, George da Silva, juga menyatakan kesiapan pihaknya terlibat aktif dalam momentum bersejarah ini sebagai bentuk komitmen terhadap moderasi, toleransi, dan gotong royong lintas elemen masyarakat.
Selain dukungan dari organisasi masyarakat, peringatan Mujadalah Kubro Harlah 1 Abad NU di Stadion Gajayana juga mendapat sokongan dari Gereja Katedral Ijen dan sejumlah gereja lainnya yang disiapkan sebagai lokasi transit jamaah. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran mobilitas serta memperkuat kerukunan antarumat beragama.
Pemerintah Kota Malang turut menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pengaturan lalu lintas, jalur khusus kendaraan, posko kesehatan dengan tenaga medis dan ambulans, hingga penambahan rute angkutan umum dan kantong parkir. Hotel serta penginapan juga telah berkoordinasi untuk menampung tamu dari luar daerah.
Peringatan satu abad NU di Kota Malang bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan simbol kuat persatuan dan moderasi beragama.
Dukungan lintas elemen masyarakat ini mempertegas posisi Kota Malang sebagai kota yang harmonis, sejuk, dan damai, sekaligus mengirim pesan kepada dunia bahwa Indonesia mampu merawat kebhinekaan. (*/win)
